LEBAK, BANTEN|Wartanusantara7.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya memberikan manfaat bagi kesehatan dan pemenuhan gizi siswa, justru menuai keluhan dari sejumlah orangtua murid di MI Mathla’ul Anwar Cikeusik, Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak. Pasalnya, makanan yang disajikan kepada para siswa diduga dalam kondisi tidak layak konsumsi, Senin (9/03/2026).

Keluhan tersebut muncul setelah beberapa siswa membawa pulang makanan dari program MBG yang terlihat basi dan berlendir, sehingga menimbulkan kekhawatiran bagi para orangtua terkait kesehatan dan standar gizi makanan yang diberikan kepada anak-anak mereka.

Salah seorang orangtua murid yang enggan disebutkan namanya mengatakan bahwa dirinya merasa khawatir setelah melihat kondisi makanan yang diterima anaknya dari sekolah.

“Kami sebagai orangtua tentu sangat khawatir. Makanan yang dibawa pulang oleh anak terlihat sudah berlendir dan baunya tidak sedap. Kalau makanan seperti itu dikonsumsi anak-anak, tentu bisa berdampak pada kesehatan mereka,” ungkapnya kepada awak media.

Menurut informasi yang dihimpun, makanan dalam program MBG tersebut diketahui disuplai oleh dapur MBG Sukaraja Sukamulang yang bertugas menyiapkan dan mendistribusikan makanan ke sejumlah sekolah di wilayah tersebut.

Para orangtua pun mempertanyakan standar kebersihan, kualitas bahan makanan, serta proses pengolahan yang dilakukan oleh pihak dapur penyedia. Mereka menilai bahwa makanan yang disalurkan kepada siswa seharusnya benar-benar memenuhi standar kesehatan dan gizi yang layak.

“Kami bukan menolak program pemerintah, karena program ini sebenarnya sangat baik. Namun kalau kualitas makanannya seperti ini, tentu sangat disayangkan. Jangan sampai niat baik program malah membahayakan anak-anak,” ujar salah satu wali murid lainnya.

Selain soal kondisi makanan yang diduga sudah basi, orangtua murid juga menyoroti pengawasan dari pihak terkait, baik dari pengelola program maupun instansi yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan MBG di lapangan.

Beberapa orangtua mendesak agar dilakukan evaluasi dan pengecekan langsung terhadap dapur penyedia makanan, guna memastikan bahwa proses pengolahan hingga distribusi makanan benar-benar sesuai dengan standar kesehatan dan keamanan pangan.

Jika tidak segera ditangani, dikhawatirkan kejadian serupa akan terus terulang dan berpotensi menimbulkan dampak kesehatan bagi para siswa yang menjadi penerima manfaat program tersebut.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak pengelola dapur MBG Sukaraja Sukamulang maupun pihak sekolah MI Mathla’ul Anwar Cikeusik belum memberikan keterangan resmi terkait keluhan para orangtua murid tersebut.

Masyarakat berharap pihak terkait segera melakukan klarifikasi, evaluasi, dan pengawasan lebih ketat, agar program MBG yang digagas pemerintah benar-benar memberikan manfaat bagi kesehatan dan pemenuhan gizi siswa, bukan justru menimbulkan kekhawatiran baru di tengah masyarakat.”

Penulis : Aldi Renaldi