JAKARTA|Wartanusantara7.com – Mendapatkan diagnosis gagal ginjal kronis merupakan pukulan berat bagi siapa pun. Tidak sedikit pasien yang merasa takut, cemas, bahkan menolak saat dokter menyarankan terapi hemodialisis (cuci darah). Namun, menurut Dokter Laura yang bertugas di Ruang Hemodialisis (HD), dialisis bukanlah akhir dari kehidupan, melainkan sebuah awal baru untuk tetap menjalani hidup yang berkualitas dan bermanfaat.

Saat ditemui Media Pengungkap Fakta, Dokter Laura mengajak para pasien, khususnya yang baru didiagnosis gagal ginjal, agar tidak kehilangan harapan. Menurutnya, rasa takut saat pertama kali menjalani dialisis merupakan hal yang sangat wajar.

“Saya ingin menyampaikan kepada seluruh pasien gagal ginjal, khususnya yang baru akan menjalani dialisis, bahwa rasa takut adalah hal yang manusiawi. Namun jangan biarkan rasa takut menghalangi kesempatan untuk hidup lebih baik. Dialisis bukan akhir dari segalanya, tetapi sebuah awal baru agar kita tetap bisa hidup, berkarya, dan bermanfaat bagi keluarga maupun masyarakat,” ujar Dokter Laura.

Dokter Laura menjelaskan bahwa ketakutan terhadap jarum suntik, mesin dialisis, maupun perubahan pola hidup merupakan keluhan yang hampir selalu dirasakan pasien baru.

Namun, setelah mendapatkan edukasi yang benar, didampingi tenaga kesehatan, memperoleh dukungan keluarga, serta berbagi pengalaman dengan pasien lain yang telah lebih dahulu menjalani dialisis, banyak pasien justru mampu beradaptasi dan kembali menjalani aktivitas secara normal.

“Banyak pasien yang awalnya sangat takut, tetapi setelah menjalani terapi secara rutin mereka justru merasakan kondisi tubuh yang jauh lebih baik dan dapat kembali beraktivitas,” jelasnya.

Dokter Laura menegaskan bahwa hemodialisis merupakan terapi pengganti fungsi ginjal yang bertujuan membuang racun dan kelebihan cairan dari dalam tubuh ketika ginjal sudah tidak mampu bekerja secara optimal.

Melalui terapi tersebut, pasien diharapkan dapat mengurangi berbagai keluhan seperti mual, sesak napas, pembengkakan, hingga kelelahan berat, sehingga kualitas hidup dapat meningkat.

“Banyak pasien dialisis yang tetap bekerja, menjalankan usaha, berkumpul bersama keluarga, bahkan terus berkarya. Yang terpenting adalah disiplin menjalani terapi dan mengikuti anjuran dokter,” katanya.

Selain hemodialisis di rumah sakit, Dokter Laura juga menjelaskan bahwa terdapat beberapa pilihan terapi lain yang dapat dipertimbangkan sesuai kondisi medis pasien.

Pilihan tersebut meliputi Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD), yaitu metode dialisis melalui rongga perut yang dapat dilakukan secara mandiri di rumah, transplantasi ginjal bagi pasien yang memenuhi persyaratan medis, maupun terapi konservatif yang berfokus pada pengendalian gejala dan peningkatan kualitas hidup pada kondisi tertentu.

Karena itu, ia mengimbau pasien untuk selalu berdiskusi secara terbuka dengan dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal dan hipertensi agar dapat menentukan terapi yang paling sesuai.

Menurut Dokter Laura, keberhasilan terapi tidak hanya ditentukan oleh pengobatan, tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi psikologis pasien.

Ia menganjurkan pasien untuk bergabung dengan komunitas pasien ginjal, membangun komunikasi yang baik dengan keluarga, serta memperoleh informasi kesehatan dari sumber yang terpercaya.

“Jangan memendam rasa takut sendirian. Ceritakan kepada keluarga dan tenaga kesehatan. Dukungan emosional sangat membantu pasien menjalani proses pengobatan dengan lebih baik,” tuturnya.

Dokter Laura juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap berbagai informasi yang belum terbukti kebenarannya di media sosial mengenai terapi gagal ginjal.

Di akhir penyampaiannya, Dokter Laura mengajak seluruh pasien gagal ginjal untuk tetap optimistis dan tidak menyerah menghadapi penyakit yang dideritanya.

“Setiap langkah kecil yang diambil hari ini adalah investasi untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan. Jangan takut memulai dialisis apabila memang menjadi pilihan terapi yang dianjurkan dokter. Dengan semangat, disiplin, dukungan keluarga, dan pertolongan Tuhan, pasien gagal ginjal tetap dapat menjalani hidup yang produktif, bermakna, dan penuh harapan,” pungkasnya.

Penulis : Team/red