PANDEGLANG|Wartanusantara7.com – Kebenaran sering kali terselip di antara angka-angka kecil. Salah satunya adalah angka Rp10.000—nilai yang belakangan disebut sebagai harga sajian dalam program Makanan Bergizi Gratis di Desa Cibungur, Pandeglang. Angka itu tampak sederhana. Tetapi justru kesederhanaannya menimbulkan pertanyaan yang tidak sederhana.
Sepuluh ribu rupiah untuk satu porsi makanan bergizi bagi anak-anak sekolah.
Jika ini benar, maka ada dua kemungkinan: pertama, kita sedang menyaksikan keajaiban ekonomi yang belum pernah tercatat dalam sejarah dapur mana pun; atau kedua, logika publik sedang dipaksa untuk menerima sesuatu yang jelas-jelas janggal.
Dalam tradisi berpikir kritis, angka bukan sekadar simbol matematika. Angka adalah narasi tentang biaya, bahan baku, tenaga kerja, distribusi, dan tanggung jawab. Sebuah porsi makanan bergizi bukan hanya nasi di atas piring; ia adalah rangkaian nilai yang mengandung gizi, keamanan pangan, dan kelayakan konsumsi.
Maka ketika angka Rp10.000 disebut sebagai harga satu paket makanan bergizi, publik wajar bertanya:
apakah ini angka riil, angka administratif, atau sekadar angka yang lahir dari meja laporan?
Klarifikasi yang muncul dari pihak dapur justru mempertebal lapisan ironi. Inisial (S) yang disebut-sebut sebagai pemilik dapur menegaskan bahwa dirinya hanya menyewakan fasilitas dapur, sementara pengelolaan program berada di tangan pihak SPPG.
Pernyataan ini secara administratif mungkin sah. Namun secara moral, ia menyisakan satu ruang kosong yang besar: ruang tanggung jawab.
Jika dapur hanya disewakan, lalu siapa yang memastikan standar makanan?
Jika pengelolaan berada di tangan pihak lain, siapa yang mengawasi kualitasnya?
Jika keluhan muncul dari wali murid, kepada siapa akuntabilitas itu harus diarahkan?
Dalam filsafat birokrasi, keadaan seperti ini disebut sebagai “kabut tanggung jawab”—situasi di mana banyak pihak hadir dalam sebuah sistem, tetapi tidak ada satu pun yang benar-benar berdiri di garis depan ketika masalah muncul. Ironinya semakin terasa ketika kritik publik justru dipertanyakan.
Pertanyaan yang dilontarkan dari pihak dapur kurang lebih berbunyi: mengapa yang diberitakan selalu sisi negatif program?
Pertanyaan ini menarik, tetapi juga berbahaya jika tidak ditempatkan dengan benar. Sebab fungsi pers—sebagaimana diatur dalam Undang‑Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers—bukanlah menjadi juru tepuk tangan kebijakan, melainkan menjaga agar kebijakan tetap berada di jalur kepentingan publik.
Kabar baik memang perlu diberitakan. Tetapi kabar buruk jauh lebih penting untuk diperiksa, karena di situlah kemungkinan penyimpangan biasanya bersembunyi.
Jika ada anak yang menerima porsi yang tidak layak, maka satu berita tentang itu lebih berharga daripada seratus laporan seremonial tentang keberhasilan program.
Dalam polemik ini, sejumlah walimurid sebagai penerima manfaat menyatakan akan terus mengawal kejanggalan pelaksanaan program yakni dapur SPPG sebagai penyuguh menu yang diduga keras hanya mencari keuntungan semata.
Sebab pada akhirnya, program seperti Makanan Bergizi Gratis bukanlah proyek statistik. Ia adalah program yang menyentuh perut anak-anak, kepercayaan orang tua, dan legitimasi negara.
Ketika makanan untuk siswa diperdebatkan karena nilainya hanya sepuluh ribu rupiah, yang sebenarnya sedang diuji bukan hanya kualitas menu, melainkan kualitas kejujuran sistem.
Negara modern sering gagal bukan karena kekurangan program, tetapi karena kelebihan slogan.
Nama program bisa terdengar mulia, tetapi realitas di lapangan sering kali lebih sederhana—dan lebih keras—daripada narasi resmi.
Di Desa Cibungur, pertanyaan publik hari ini sangat mendasar: siapa yang bertanggung jawab atas kualitas makanan yang diberikan kepada anak-anak?
Selama pertanyaan itu belum dijawab dengan terang, angka Rp10.000 akan terus menjadi simbol yang mengusik akal sehat.
Sebab dalam kehidupan publik, ada satu hukum yang selalu berlaku: ketika sebuah sistem terlalu sibuk menjelaskan siapa yang tidak bertanggung jawab, biasanya di situlah tanggung jawab sebenarnya sedang menghilang.”(Team/red)





