BANTEN|Wartanusantara7.com — Dugaan Penyalahgunaan Dana Program Revitalisasi SLTA (SMK/SMA) Sekolah memang tengah menjadi sorotan tajam di berbagai daerah karena maraknya indikasi praktik “bancakan” atau korupsi berjamaah (setoran fee sebesar 20%-25%). Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) sebenarnya telah mengalokasikan anggaran jumbo untuk memperbaiki puluhan ribu sekolah. Namun, skema swakelola yang diterapkan justru rawan dimanfaatkan oleh oknum tertentu demi keuntungan pribadi.

Beberapa modus klasik yang kerap ditemukan di lapangan meliputi:

Pengkondisian Rekanan/Kontraktor: Sekolah yang seharusnya mengelola proyek secara mandiri (swakelola) dipaksa atau diarahkan untuk memakai jasa kontraktor atau rekanan tertentu titipan oknum, ungkap Arip ekek di sekretariat P3B, (Minggu, 4/10/26).

Potongan Liar dan Permintaan Fee: Munculnya pungutan atau setoran ilegal (biasanya berkisar antara 20% hingga 25%) dari nilai total bantuan yang diterima sekolah dengan dalih biaya koordinasi atau kebijakan dinas.

Praktek bejad ini terjadi di provinsi Banten khususnya di kota santri dan kiai (Kabupaten Pandeglang), pada kesempatan ini kami dari Pergerakan Pemuda Peduli Banten (P3B) meminta pihak Aparat Penegak Hukum (APH) Wilayah Banten dan Pandeglang untuk segera memanggil para kepala sekolah dan para oknum Konsultan yang diduga telah memungut fee sebesar 25% dari beberapa sekolah yang mendapatkan program revitalisasi, cetus ekek.

Insya Allah dalam waktu dekat ini kami akan melakukan aksi unjuk rasa di Kejaksaan Tinggi dan Polda Banten serta akan melaporkan dugaan ini dengan membawa beberapa berkas ke Lembaga Antirasuah KPK RI dan Kejaksaan Agung. Karena kami memandang sangat perlu kasus ini di usut tuntas, agar dunia pendidikan tidak banyak di cederai oleh oknum konsultan mau pun oknum yang lainnya. Dan kenapa kami akan melaporkan kasus ini ke Kejagung, karena Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah ini telah bekerjasama dengan pihak Kejaksaan Agung, tutupnya.

 

Penulis : Team/red